CARA KAMI MENGHADAPI LANSIA TANTRUM:
Selagi lansia hanya menangis dan berteriak saja tanpa di ikuti tindakan ekstrim, seperti memukul, melempar dan menyakiti diri sendiri maupun orang lain, kami akan selalu berada disamping nya.
Biasanya bila saya sebagai pendamping saya akan menyentuhnya dengan lembut, membelai nya dan melakukan sentuhan perlahan yang membuatnya merasa aman, sambil bicara pelan-pelan. Saya tidak memaksa untuk didengar, saya hanya memberikan sinyal sebagai tanda bahwa saya ada disitu untuk dia.
Biasanya lansia meracau sambil menangis dan berteriak2 meluap kan apa yang mengganjal di hati nya itu dilakukan tanpa disadari.
Saya akan mengusap punggungnya sambil mengatakan, "iya oma / mama..teruskanlah menangis, keluarkan apa yang mau oma / mama ingin katakan, bila ingin menangis menangis, disini tidak akan ada yang melarang oma / mama menangis". saya melakukan itu untuk menunjukan bahwa kita siap mendengarkan demikian juga dengan nada suara kita juga harus jauh lebih rendah.
Setiap pagi, saya usahakan untuk menyapa dan menanyakan kabar tidur semalam, begitu pula bila saya/ kami dari bepergian, kami harus menyapanya terlebih dulu daripada harus melakukan hal apapun juga. kami melakukan itu bukan tanpa sebab, kami juga melakukan pengamatan, bahwa beliau sangat senang dan tenang bila kita menyapanya.
Karena pada dasarnya manusia hidup untuk bisa berarti bagi sesama. oleh sebab itu membuat mereka merasa dihargai adalah cara kami untuk menumbuhkan kembali rasa dibutuhkan, dihargai yang membuat Lansia semangat.


